Nganjuk, Memo
Terkait raibnya tanah milik desa,
Drs Bambang Subagiyo, Kepala Desa Pelem, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk
mengakui bahwa pihaknya telah menjual, untuk pembangunan pabrik sepatu di dusun
Klinter. Sampai sekarang, warga tetap mempertanyakan hasil penjualan tanah
milik desa tersebut.
“ Tanah yang terletak di dusun
Klinter itu memang sudah kita jual. Untuk sebagian, rencananya akan ada
penggantinya, “ aku Bambang Subagiyo, saat diwawancarai Memo pada hari Selasa (
08/04 ) sehari menjelang Pemilu di kantornya. Sebagian dari hasil penjualan itu
kita pergunakan untuk pembangunan gapura di dusun Klinter dan kantor PKK.
Namun sebagian dari asset
tersebut akan diganti lahan ditempat lain yang sama nilainya. “ Tapi bukan
sebagai tukar guling, “ terang Bambang sedikit mereda emosinya saat ditanyakan
perihal asset desa yang dijual oleh Imam Hidayat, Sekretaris Desa Pelem.
Sebelumnya, ketika dikonfirmasi, Bambang dengan nada kaku dan keras menurut
etika normal, menunjukan sikap egoisnya seorang pejabat dan penguasa di desa
tersebut. Bahkan Bambang sempat minta identitas wartawan.
Sedang Imam Hidayat, oknum
Sekretaris Desa Pelem, sorenya sempat berkomunikasi dengan Memo untuk
verifikasi kebenaran atas berita tersebut. “ Dilanjut saja mas, sudah terlanjur
ditulis mau diapakan lagi. Tapi kalau teman-teman minta makan, ya ayo, saya
beri makan, “ ujarnya via phonselnya. Setelah itu, Imam sulit dihubungi.
Beberapa warga, terutama dusun
Klinter dengan pengakuan Bambang itu, kian membara kebenciannya. “ Kalau hasil
penjualan tanah itu untuk pembangunan gapura, saya akan bongkar. Apakah ada
intan berliannya, kok sampai menghabiskan dana sebesar hasil penjualan tanah.
Setelah itu, kami akan bangun kembali, “ ujar beberapa warga yang dibenarkan
Muhajir, mantan BPD desa setempat.
Menurut penyampaian warga secara
tertulis ke Polres Nganjuk, dua lokasi tanah jalan kereta angkutan tebu ( lori
), luas 629 M2 dan tanah bekas irigasi yang telah beralih
fungsi menjadi jalan persawahan dengan luas 829 M2 yang terletak di dusun Klinter, selain telah
beralih nama, juga telah dijual Imam Hidayat ke pengusaha pabrik sepatu.
Nilai ke dua lokasi tanah milik
desa yang dijual Imam Hidayat itu nilainya Rp 114 juta dan Rp 142 juta. “ Jadi
total, kerugian desa yang ditelan Imam Hidayat dan Bambang sekitar Rp 256 juta,
sebanding dengan nilai jual tanah tersebut, “ tutur salah seorang warga.
Sampai sekarang, warga menunggu
hasil penyelidikan dari Polres Nganjuk. Karena semua hal itu sudah disampaikan
via pos. “ Kami akan minta petunjuk ke komisi A DPRD Nganjuk dan ke Bappemas
Pemdes serta DP2KAD. Sebab semua itu terkait dengan asset desa yang telah tanpa
sepengetahuan dan rembug desa. Kami akan tetap pertanyakan semua ini sampai
kapanpun, “ tutur Achmad, tokoh desa tersebut
matoh pak kadesssss
BalasHapusmatoh pak kadesssss
BalasHapus