Jelang tahun ajaran baru bulan
Juni mendatang, diperkirakan banyak kepala sekolah SMP yang pusing kepalanya.
Pasalnya, banyak kelulusan SD yang jeblog IQ nya ( Intelegent Quitient ).
Padahal, nilai di raport tinggi-tinggi. Siapa yang bermain. Siswa atau gurunya
yang turun campur-tangan.
Fenomena tersebut, terjadi pada
tahun 2013 lalu. Saat penerimaan siswa baru. Beberapa siswa dengan ranking
nilai tinggi, danem mencapai 27. Dan masuk di beberapa SMP favorit di Nganjuk.
Tapi setelah masuk dan di test, mereka yang punya danem tinggi, kemampuannya
dibawah rata-rata alias begog-begog. Dan kejadian tersebut, kemungkinan bakal
terjadi pada tahun ini. Sebab, kejadian dan pelakunya tetap.
Sehingga beberapa kepala SMP
sempat mengeluh dengan kejadian tersebut. Tapi tidak berdaya. Karena berdasar
ranking danem mereka bisa masuk di sekolahnya. Beberapa kepala SMP itu
diantaranya SMPN I Nganjuk, SMPN Tanjunganom dan SMPN 1 Rejoso.
Lucunya, beberapa SD swasta di Nganjuk, seperti Baitul Izah, Aisyah dan Muhammadiyah yang mempunyai kelulusan siswa dengan danem dibawah mereka tidak bisa diterima di SMP favorite. Alasannya, saat perankingan danem masih terkalahkan dengan kelulusan siswa di beberapa SDN se kecamatan Rejoso, Nganjuk dan Tanjunganom.
“ Padahal kalau di test secara
murni, kelulusan dari SD swasta ini tidak kalah dengan kelulusan SDN yang lulus
karena panduan gurunya itu, “ ujar Mujiono, anggota LSM Forum Peduli Guru ( FPG
), pada Jumat ( 11/04 ) siang. Bahkan, kami berani bertaruh saat di test,
lulusan SD swasta nilainya diatas lulusan SDN.
“ Apalagi yang terjadi di SDN se
kecamatan Rejoso, banyak sekolahan yang merekayasa siswanya dengan cara memberi
lembar jawaban soal test ujian. Karena hasil rekayasa, sehingga hasilnya dengan
nilai baik. Tapi IQ jeblog, “ papar LSM yang peduli dengan nasib pendidikan di
Nganjuk ini.
Menurut Mujiono, kejadian seperti
itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu dan kepala UPTD Kecamatan Rejoso
membiarkan kejadian terus berlangsung. “ Jika ujian bulan depan ini kejadian
seperti itu tetap dibiarkan, kami akan laporkan ke polisi dalam tindak pidana,
“ ungkapnya. Jatuhnya moral bangsa itu bukan karena kejahatan dari tindak
pidana pencurian atau pembunuhan saja. Membantu dengan cara seperti itu sama
halnya dengan meracuni siswa sendiri. Maksut seperti itu termasuk kejahatan
Negara.
Mujiono tidak berkoar saja. Akan
tetapi dia sudah meneliti di beberapa sekolahan. Ia menanyakan kepada beberapa
siswa perihal turun tangan pihak guru yang membantu memberi lembar jawaban itu.
“ Seperti yang terjadi di SMPN I Rejoso, saat kami wawancara dengan siswa kelas
7. Mereka ada yang mengaku bahwa saat ujian dibantu gurunya, diberi lembar
jawaban“ pungkasnya.
Kemudian saat ditanya SDN mana
saja yang melakukan hal tersebut, Mujiono dengan tegas menyampaikan. Hasil
verifikasi sebagai simple di beberapa siswa yang sudah masuk di SMPN I Rejoso,
hampir semua SDN di Kecamatan Rejoso melakukan hal yang sama. Belum SDN di
kecamatan yang lain. “ Nama-nama SDN dan guru serta kepala sekolah sudah
ditangan saya semua. Mereka ini akan saya laporkan ke polisi jika pada tahun
ini tetap melakukan seperti itu, “ ancamnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar